Minggu, 21 Mei 2017

Copas dari: Rumahtarbiyah.com
 
Oleh : Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

Hanya sekitar 20an kosa kata, namun kandungan dan maknanya sangatlah luas dan
mempesona. Bila kita benar-benar menyelaminya sembari menelaah ucapan para ulama dan ahli tafsir tentang maknanya, satu kitab pun tak akan cukup tuk mengupas
tuntas keindahan dan pesona tadabburnya. Bukan syarah atau penjelasan hukum dan faedah ilmiyah yang luas tentang puasa yang saya maksud, namun ia hanyalah tadabbur dan renungan makna yang disarikan dari 20an kosa kata tersebut. Andai ada teman-teman yang bisa sungguh-sungguh mentadabburi ayat pendek ini, seraya membandingkannya dengan ucapan para ulama, niscaya akan muncul karya tulis
tadabbur yang tebal, hanya dari sekitar 20 kosa kata. Itulah mukjizat Al-Quran dan
bahasa arab yang merangkai tiap kata dan kalimatnya. Allah ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
َArtinya : Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS.Al Baqarah : 183)
Para ulama telah bersungguh-sungguh menelaah dan mentadabburi ayat ini dalam berbagai kitab mereka baik tafsir, hadis maupun yang lainnya. Dibawah ini adalah sedikit hasil dari telaah dan tadabbur mereka dalam menjelaskan makna dan faedah dari ayat ini, bukan syarah hukum dan penjelasan puasa, namun faedah tadabbur yang
hanya disarikan dari 20 kosa kata yang merangkai keagungan ayat kewajiban
berpuasa tersebut.
Sebelum menyelami tadabbur para ulama dalam ayat ini, perlu diketahui bahwa ayat puasa ini turun di Madinah, sehingga kewajiban puasa ini juga awal mulanya ada di Madinah. Ini memiliki hikmah tersendiri, sebagaimana yang
disebutkan oleh Al-Biqaa'i rahimahullah dalam kitabnya "Nadzhm Al-Durar (2/14)":
"Alasan diwajibkannya puasa ini di Madinah adalah bahwa tatkala mereka (para
sahabat) merasa aman dari permusuhan orang-orang musyrik, dan zaman fitnah
(kembali dari perang Badr dengan kemenangan), maka fitnah tersebut kembali
khususnya pada diri-diri mereka dengan adanya kelapangan dalam perkara
syahwat/hawa nafsu, yang mana hal ini tidak layak bagi orang-orang beriman yang
lebih memprioritaskan amalan akhirat daripada dunia".
Selamat menyelami.
 Puasa merupakan ibadah yang agak sulit dan melelahkan, sebab itu dalam
mewajibkannya Allah ta'ala menyeru kita dengan seruan yang indah dan penuh
kelembutan dan motivasi, agar kita bisa mendengar dan melaksanakannya dengan
ikhlas dan senang hati. Ada tiga poin motivasi dalam seruan-Nya yaitu:
• 1.Panggilan cinta dan kemuliaan yang menunjukkan tingginya derajat kita sebagai
manusia yang tunduk dalam aturan dan perintah-Nya, tatkala ia menyeru kita dengan seruan "Wahai orang-orang yang beriman".
•2.Agar kita tidak merasa terzalimi oleh-Nya atau merasa tidak diistimewakan dari umat-umat sebelumnya, Dia pun menyatakan: "Sebagaimana (puasa ini) diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". Ini juga berfungsi agar kita termotivasi untuk melaksanakannya dengan puasa yang lebih baik dan afdhol dari umat-umat
sebelumnya.
Dalam penyerupaan kewajiban ini dengan kewajiban umat sebelumnya terdapat hikmah yang besar, dan cara pembinaan yang baik yaitu menyemangati dan
menghibur orang-orang yang diembankan kewajiban dengan mengisahkan atau
menyebutkan bahwa kewajiban tersebut telah diemban oleh orang lain dan mampu menjalankannya.
•3.Untuk lebih memotivasi kita dalam menjalankannya, Dia menyebutkan hikmah
dibalik puasa ini, yaitu "Agar kalian bertakwa".
 Panggilan " Hai orang-orang beriman" Menunjukkan bahwa orang yang menjawab
seruan ini dengan berpuasa maka ia adalah benar-benar mukmin sejati, sebaliknya
yang tidak menjawabnya dengan puasa keimanannya sangatlah kurang, dan bisa saja ia menjadi kafir kalau berkeyakinan bahwa puasa ini bukanlah suatu kewajiban.
 Lafadz "Kutiba" atau "Kitaaban" yang berarti penetapan dan kewajiban dalam Al-Quran bermakna sesuatu yang wajib dan mesti dilakukan dan terjadi, baik dari segi perkara syariat seperti dalam ayat puasa ini, ataupun sesuatu yang berkaitan dengan takdir seperti ayat " Rabbmu telah menetapkan (mewajibkan/ kataba) atas Diri-Nya rahmat. …" (QS Al-An'am: 54).
Ibadah puasa ini wajib dan harus dilaksanakan, dan rahmat Allah ini mesti ada dan tercurahkan atas mereka yang beriman. Keduanya menggunakan kata "kutiba
(kitaabah)".
 Karena puasa ini adalah ibadah yang agak susah dan melelahkan, maka ketika
menyatakan kewajibannya dalam ayat ini, Allah tidak menyebutkan menisbatkan
nama-Nya secara langsung sebagai Dzat yang memberikan kewajiban ini sebab ia tidak layak untuk dinisbatkan pada yang sulit dan menyusahkan. Hal ini senada dengan firman-Nya : "Diwajibkan atas kamu untuk berperang…" (QS Al-Baqarah: 216), juga : " Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kalian menerapkan qishash
dalam pembunuhan.”.." (QS Al-Baqarah: 178).  Namun ketika dalam kewajiban yang mengandung rahmat dan kabar gembira Dia secara langsung menyebut nama-Nya atau menyandarkan perbuatan tersebut pada Dzat yang mewajibkannya contohnya dalam firman-Nya: " Rabbmu telah menetapkan (mewajibkan) atas Diri-Nya rahmat …" (QS Al-An'am: 54).
 Satu ketaatan akan mendatangkan ketaatan yang lainnya. Dalam ayat ini Allah ta'ala menyatakan bahwa puasa dapat membuahkan sifat taqwa. Dan taqwa ini adalah semua amalan shalih menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ini menunjukkan bahwa puasa bisa mendatangkan ketaatan-ketaatan lainnya yang lebih banyak, baik berupa menjauhi maksiat, tilawah al-quran sedekah (karena merasakan penderitaan fakir miskin),, ataupun ibadah-ibadah lainnya.
Sebaliknya kalau tidak puasa tanpa udzur, maka akan mendatangkan adanya
maksiat-maksiat lain yang lebih banyak karena kemaksiatan –sebagaimana halnya kebaikan- juga menyebabkan adanya maksiat-maksiat lainnya.
 Makna "agar kalian bertaqwa":
•1.Dengan ibadah puasa diharapkan agar kalian meraih sifat taqwa. Karena ia
berfungsi sebagai tazkiyatunnafs (penyuci jiwa), dan pembersihnya dari akhlak dan sifat yang buruk.
•2.Dengan ibadah puasa engkau akan dimasukkan dalam golongan orang-orang
bertaqwa karena puasa merupakan syiar mereka.
•3.Taqwa bisa bermakna tameng dan penghalang. Sehingga ibadah puasa yang
konsekuensinya adalah meninggalkan maksiat, karena bisa mengekang hawa nafsu dan mempersempit pintu masuk syaithan dalam tubuh manusia, pasti menjadi tameng dari api neraka, karena ia membuat lemah hawa nafsu dan menundukkannya.
•4.Taqwa sebagai penghalang dari maksiat. Artinya dengan puasa ini, seseorang bisa mengekang hawa nafsunya dari berbuat dosa dan maksiat baik dalam bulan puasa atau diluarnya.
• Tujuan suatu kewajiban atau amal ibadah yang disebutkan oleh Allah ta'ala
merupakan bagian dari suatu kewajiban juga, artinya melakukan kewajiban agar bisa melakukan kewajiban yang lain. Sama halnya dengan puasa yaitu kita melakukan puasa yang merupakan suatu kewajiban agar kita semua bisa mewujudkan kewajiban yang lain yaitu sifat taqwa.
Ini juga sama halnya dengan ibadah shalat, sebagaimana
dalam firman-Nya: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS Al-Ankabut: 45).
Artinya shalat merupakan suatu kewajiban, dengan melaksanakannya maka akan bisa mewujudkan kewajiban lain yaitu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar.
 Dalam perintah suatu ibadah, Allah hanya menyebutkan tujuan dan hikmah ibadah tertentu seperti yang disebutkan diatas, dan Dia sama sekali tidak menyebutkan tentang nikmatnya suatu ibadah tersebut, atau tidak menjadikan nikmat dan lezatnya suatu ibadah sebagai bagian dari tujuan ibadah secara langsung.
Hikmah dari hal ini
adalah karena rasa nikmat dan kelezatan ibadah merupakan inti dari derajat ihsan, yang mana bila dijadikan sebagai bagian dari tujuan ibadah maka akan mempersulit kebanyakan orang yang melakukannya lantaran sulitnya untuk benar-benar mewujudkannya dalam hati.
 "Diwajibkan atas kamu berpuasa …. Agar kamu Bertaqwa", Taqwa merupakan derajat iman yang paling tinggi, tidak semua mukmin bisa mencapai derajat ini kecuali orang-orang yang benar-benar bisa bersabar dalam menjalani ibadah dan ujian Allah ta'ala. Artinya: untuk mencapai suatu derajat yang tinggi, baik dalam urusan dunia apalagi akhirat, seseorang harus menjalani tes, ujian bahkan rintangan, bila
bersabar dan berhasil melaluinya maka derajatnya akan terangkat, dan akan
dimuliakan, Ini sama halnya dengan ibadah puasa ini yang membutuhkan kesabaran dalam menjalaninya, sebab ia adalah ujian dan cobaan agar kita bisa meraih derajat
taqwa disisi-Nya.
 Salah satu tanda orang yang sungguh-sungguh ingin bertakwa adalah yang sungguh-sungguh menjalankan puasa "Agar kalian bertaqwa".
Sumber :Rumahtarbiyah.com

Rabu, 17 Mei 2017

Kumpulan do'a-do'a nabi kita di dalam al-Qur'an

Ust Kosim_ Kis:
🅾  Bismillaah,
.. Kumpulan do'a-do'a nabi kita di dalam al-qur'an.
* آدم
🔲Doa Nabi Adam
"ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين"
[QS. Al A'raf : 23]
* نوح
🔲Doa Nabi Nuh
"رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمناً وللمؤمنين والمؤمنات ولاتزد الظالمين إلا تبارا"
[QS. Nuuh : 28]
* هود
🔲Doa Nabi Hud
"إني توكلت على الله ربي وربكم ما من دآبة إلا هو آخذ بناصيتها إن ربي على صراط مستقيم"
[QS. Hud : 56]
* أبراهيم
🔲Doa Nabi Ibrahim
"رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء ".
[QS. Ibrahim : 40]
"ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم"
[QS. Al Baqarah : 127-128]
* يوسف
🔲Doa Nabi Yusuf
"فاطر السموات والأرض أنت وليي في الدنيا والآخرة توفني مسلما وألحقني بالصالحين"
[QS. Yusuf : 101]
* شعيب
🔲Doa Nabi Syu'aib
"وسع ربنا كل شيء علما على الله توكلنا ربنا أفتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين"
[QS. Al A'raf : 89]
* موسى
🔲Doa Nabi Musa
"رب بما أنعمت علي فلن أكون ظهيرا للمجرمين
[QS. Al Qashash : 18]
رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي"
[QS. Thahaa : 25-28]
* سليمان
🔲Doa Nabi Sulaiman
"رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأدخلني برحمتك في عبادك الصالحين"
[QS. Al Ahqaf : 15]
* أيـــوب
🔲Doa Nabi Ayyub
"رب أنى مسني الضر وأنت أرحم الراحمين"
[QS. Al Anbiyaa' : 83]
* يونـس
🔲Doa Nabi Yunus
"لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين"
[QS. Al Anbiyaa' : 87]
* يعقوب
🔲Doa Nabi Ya'qub
"انما أشكو بثي وحزني إلى الله"
[QS. Yusuf : 86]
* محمـد صلى الله عليه وسلم
🔲Doa Nabi Muhammad
"ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنه وقنا عذاب النار"
[QS. Al Baqarah : 201]
:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
أدعيه حلـوِْوه مـَُِنٍّ القرآن الكريم
..💐  Doa2 indah yang terdapat di dalam Al Quran
تريد ذرية صالحة:
🌷 Doa agar mendapatkan keturunan yang sholih
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
[QS. Ali Imran : 38]
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
[QS. Al Anbiyaa : 89]
خائف يزوغ قلبك:
🌷 Doa agar hati tidak dicondongkan kpd Kesesatan
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب
[QS. Ali Imraan : 8]
تريد الشهادة:
🌷 Doa agar mendapatkan Syahid
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
[QS. Ali Imran : 53]
 شايل هم كبير:
🌷 Doa menghilangkan kegundahan yang besar
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
[QS. At Taubah : 129]
تريد تحافظ على الصلاة أنت وذريتك:
🌷 Doa agar bisa menjaga sholat
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
[QS. Ibrahim : 40]
تريد زوجتك وعيالك مسخرين لك:
🌷 Doa agar istri & anak menjadi penyejuk mata
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
[QS. Al Furqon : 74]
بيت مبارك لك فيه:
🌷 Doa agar rumah kita diberkahi
رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِين
[QS. Al Mu'minuun : 29]
تبعد الشياطين عنك:
🌷 Doa agar kita dijauhkan dari tipu daya setan
رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
[QS. Al Mu'minuun : 97]
خائف من عذاب جهنم:
🌷 Doa ketika takut siksaan Jahannam
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
[QS. Al Furqon : 65]
خائف من الله لا يقبل عملك
🌷 Doa ketika takut amal kita tidak diterima
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
[QS. Al Baqarah : 127]
حزين بحياتك:
🌷 Doa ketika bersedih dalam hidup
إنما أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّه
[QS. Yusuf : 86]
لا تحرم غيرك من احلى الأدعيهالقرآنيه
Jangan menghalangi saudaramu dari manisnya doa2 di dalam Al Quran ini
نصيحة : استمر في ارسالھا لعلها تكون لك صدقة جارية
Nasihat : teruskanlah pesanan ini kpd saudara2 kita, semoga kelak akan menjadi sedekah jariah bagi kita semua

Senin, 24 April 2017

CATATAN KECIL: Hari-hari manusia dipergilirkan


🍂 Saudraku, mari renungkan ayat ini:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

”Dan hari-hari itu, Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Ali Imran ayat 140)

Ayat ini berbicara tentang masa jaya dan masa terpuruk manusia, bahwasanya masa jaya dan terpuruk akan berputar dipergilirkan oleh Allah diantara mereka(manusia).

Saudaraku yang kucinta, karena itu maafkanlah orang yang bersalah, maklumi orang yg lupa, mudahkan orang yg susah, jangan hardik orang yang keliru, terima kekurangan orang yang lemah, jangan remehkan orang yang tak punya, bantu orang yang terhimpit, berdirikan orang yang jatuh, motivasi orang yang terpuruk, angkat orang rendah, kasihani orang yang tak berdaya dan beri uzur pada orang yang khilaf.

_Kenapa???_

Karena hari-hari dari masa jaya dan terpuruk akan dipergilirkan oleh Allah 'azza wa jalla diantara manusia. Mungkin sudah dekat masanya engkaupun mengalami hal yg serupa.

*Ya Allah, teguhkan kami semua diatas agama-Mu*

✒ _Ustadz Syahrullah Hamid_
_________________
🍀Grup WA Belajar Islam Intensif(BII)🍀


*Gabung Grup BII*
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐www.belajarislamintensif.com

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

Kamis, 20 April 2017

Jejak keislaman kartini Yang belum banyak diketahui


Salin saji, sepenggal catatan menyongsong 
Hari Kartini,

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"

"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".

"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".

"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".

"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".

"Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan".

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; "Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur'an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya Minadh Zdhulumaati ilan Nuur

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Zdhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata Minazh-Zdhulumaati ilan-Nuur dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

Semoga Allah mengampunimu, ibu Kartini. Aamiyn ya Rabbal aalamiyn.