Selasa, 12 Agustus 2014

Halal bil halal, Minal Aidin Wal Faizin...dst istilah dari mana??

Dalam kehidupan sehari-hari,ada beberapa istilah sering kita gunakan, diantara istilah tersebut adalah silaturahmi,Minal Aidin Wal Faizin, halal bil halal dll. Namun penggunaan istilah tersebut perlu diketahui asal-usul dan maknanya.

  1.    Halal bil Halal
Secara bahasa, halal bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.

Kata majemuk ini tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.”

Senin, 14 Juli 2014

Buka Puasa FORMI: Ajang Silaturrahmi



Makassar,Ahad, 15 Ramadhan 1435H/13 juli 2014 M, Buka puasa akbar forum Alumni Muslim (FORMI) PNUP bertempat di Masjid Nurul Hikmah Adyaksa Baru. 

Kegiatan ini rutin diadakan seiap tahunnya di bulan ramadhan .Seperti tahun sebelumnya peserta yang hadir tediri dari para alumni mulai dari angkatn 1999-2010. Selain alumni, hadir pula pengurus KAMUPI PNUP dan undangan yang lainnya. 

Acara pertemuan ini dibuka oleh Sudiman Tahir dan diikuti  sambutan ketua Dewan Syuro FORMI.  pertemuan seperti  ini harus digalakkan terus, kalau silaturahmi di galakkan rezki juga semakin lancar” Kata Akbar dalam sambutannya. “kedepannya bisa lebih lancar & waktu bisa lebih panjang lagi..” lanjutnya.

Setelah sholat maghrib acara ini dilanjutkan dengan makan malam bersama. Di akhir Acara, beberapa alumni memberikan saran untuk FORMI Kedepan. “...perlu diadakan kegiatan  lain seperti pelatihan wirausaha..”  kata Agus. Usulan yang lainnya tentang silaturrahmi yang perlu dikemas dalam bentuk rihlah, ada pula yang menyinggung tentang konsep kelembagaan FORMI.

Sebelum acara berakhir satu persatu peserta saling besalaman.      

Sabtu, 31 Mei 2014

Iran dan Yahudi



Lihatlah ke Iran. Bagaimana Yahudi di negara yang presidennya selalu gembar-gembor akan menghancurkan, mencaci maki bangsa Yahudi. Di Iran, Yahudi tersebar di tiga kota besar; Tehran, Hamdan, Isfahan. Dan menurut data resmi Iran, ada sekitar 30.000 orang Yahudi di Iran. Sebuah jumlah yang sangat besar di sebuah negara yang katanya  anti-Zionis!

Isfahan, yang terletak di tengah-tengah Iran, dikelilingi oleh kota-kota berbasis Syiah—seakan dengan jelas orang-orang Syiah melindungi mereka.

Padahal, orang-orang Sunni di Iran diburu seperti tikus, dan ulama-ulamanya digantung. Bahkan orang-orang Sunni tidak punya masjid untuk shalat Jumat. Bandingkan dengan sinagog yang bertebaran di bumi Iran.

Orang-orang Yahudi punya hubungan baik dengan pemerintahan Iran. Mereka menganggap bahwa orang-orang Sunni sebagai musuh utama mereka. Bahkan, di parlemen Iran, orang-orang Yahudi mempunyai deputi alias perwakilannya.  Kita harus tahu bahwa orang-orang Yahudi di Iran menolak pindah ke tanah jajahan Palestina. Mengapa?

Karena, untuk sebagian Yahudi, Iran adalah tempat suci karena banyak nabi mereka dimakamkan di sini. Misalnya saja Nabi Daneil. Nabi ini adalah salah satu nabi yang sudah memprediksikan kejadian-kejadian sebelum kiamat. Dan ia dikenal luas di antara Yahudi dan umat Kristen. Selain Nabi Daniel, ada juga Nabi Habqouq, Nabi Sumoil, Qeedar, dan Nabi Hajayy.

Di Iran juga ada makam Bunyamin, saudara Nabi Yusuf. Jadi tidak heran jika Yahudi mengagungkan Iran sebagai tanah suci. Dan mereka menganggap Isfahan sebagai kota yang lebih spesifik lagi.  Kota ini merupakan tempat pertama dimana mereka berkumpul pertama kalinya setelah perusakan Yerusalem oleh Novukhodonsur.

Sejarah sudah menyimpan hal ini, dan kemudian setelah 70 tahun penangkapan oleh raja Babylon Nebukadnezzar, mereka berkumpul di Isfahan.

Rabi-rabi di Isfahan mengajar anak-anak Yahudi tentang berbagai kuil Yahudi.

Yang lebih mencengangkan  ada sebuah hadist Nabi yang tertera dalam Sahih Muslim, hadist ke 7034: “Anas Bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah shallallu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Dajjal akan diikuti 70 ribu Yahudi dari Isfahan mengenakan selendang Persia.” Ala kuli haal, Yahudi-Yahudi di Isfahan, Iran selalu mengenakan selendang.

Senin, 05 Mei 2014

Tadzkiroh...


هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

bekerja keras lagi kepayahan,

تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

memasuki api yang sangat panas (neraka),

(QS. Al Ghosyiah 1-4)

Rangkaian ayat di awal surah Al Ghosyiyah ini bercerita ttg neraka yang panas dan para penghuninya.

Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yg banyak dan beragam yg dikerjakan dg penuh kepayahan (ayat ke-3).
Tapi amalan2 tsb tidak sempurna, penuh cacat. Bisa jadi karena motif dan niatnya yang salah, maupun tata caranya yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Astaghfirullahal‘adzhim…

Ibrah..

Alkisah, ‘Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini.

Suatu hari Atha' As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain berkata,
“Wahai Atha,.' sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”