Sabtu, 18 Oktober 2014

Sudah siapkah ketika orangtua kita berkata jujur??



Pagi ini ahad( 19 oktober 2014) saya membuka wa, disebuah group teman mengirimkan artikel yang menarik untuk jadi bahan renungan. Isinya berupa kisah, yaitu tentang seorang anak dan ayahnya. berikut kisahnya:  


Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.


Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.


Selasa, 14 Oktober 2014

Sebuah cerita yang indah dan penuh inspirasi dan menyentuh



Kisah Ini kami Copas dari group whatsapp

Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yg berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan bukubuku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.
***

Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?" , ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)", sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur", sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan".
Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".

***

Selasa, 12 Agustus 2014

Halal bil halal, Minal Aidin Wal Faizin...dst istilah dari mana??

Dalam kehidupan sehari-hari,ada beberapa istilah sering kita gunakan, diantara istilah tersebut adalah silaturahmi,Minal Aidin Wal Faizin, halal bil halal dll. Namun penggunaan istilah tersebut perlu diketahui asal-usul dan maknanya.

  1.    Halal bil Halal
Secara bahasa, halal bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.

Kata majemuk ini tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.”

Senin, 14 Juli 2014

Buka Puasa FORMI: Ajang Silaturrahmi



Makassar,Ahad, 15 Ramadhan 1435H/13 juli 2014 M, Buka puasa akbar forum Alumni Muslim (FORMI) PNUP bertempat di Masjid Nurul Hikmah Adyaksa Baru. 

Kegiatan ini rutin diadakan seiap tahunnya di bulan ramadhan .Seperti tahun sebelumnya peserta yang hadir tediri dari para alumni mulai dari angkatn 1999-2010. Selain alumni, hadir pula pengurus KAMUPI PNUP dan undangan yang lainnya. 

Acara pertemuan ini dibuka oleh Sudiman Tahir dan diikuti  sambutan ketua Dewan Syuro FORMI.  pertemuan seperti  ini harus digalakkan terus, kalau silaturahmi di galakkan rezki juga semakin lancar” Kata Akbar dalam sambutannya. “kedepannya bisa lebih lancar & waktu bisa lebih panjang lagi..” lanjutnya.

Setelah sholat maghrib acara ini dilanjutkan dengan makan malam bersama. Di akhir Acara, beberapa alumni memberikan saran untuk FORMI Kedepan. “...perlu diadakan kegiatan  lain seperti pelatihan wirausaha..”  kata Agus. Usulan yang lainnya tentang silaturrahmi yang perlu dikemas dalam bentuk rihlah, ada pula yang menyinggung tentang konsep kelembagaan FORMI.

Sebelum acara berakhir satu persatu peserta saling besalaman.