Senin, 05 Mei 2014
Tadzkiroh...
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ
Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ
bekerja keras lagi kepayahan,
تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً
memasuki api yang sangat panas (neraka),
(QS. Al Ghosyiah 1-4)
Rangkaian ayat di awal surah Al Ghosyiyah ini bercerita ttg neraka yang panas dan para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yg banyak dan beragam yg dikerjakan dg penuh kepayahan (ayat ke-3).
Tapi amalan2 tsb tidak sempurna, penuh cacat. Bisa jadi karena motif dan niatnya yang salah, maupun tata caranya yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Astaghfirullahal‘adzhim…
Ibrah..
Alkisah, ‘Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini.
Suatu hari Atha' As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain berkata,
“Wahai Atha,.' sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
Arti Waktu
Bila kau ingin tahu apa arti 1 tahun,
tanyalah pada siswa yang tidak naik kelas.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 semester,
tanyalah pada seorang mahasiswa yang telat lulus kuliah.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 bulan,
tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 minggu,
tanyalah seorang editor majalah mingguan.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 hari,
tanyalah pada seorang wanita menanti pernikahannya esok hari.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 jam,
tanyalah pada seorang pengusaha yang telat bertemu investor potensial.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 menit,
tanyalah pada seorang penumpang yang ketinggalan pesawat.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 detik,
tanyalah pada seorang yg selamat dari reruntuhan bangunan
.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 milidetik,
tanyalah pada seorang atlit lari olimpiade.
Bila kau ingin tahu apa arti waktu dan hidup,
tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Semoga kita termasuk 3 golongan orang-orang yang beruntung. Yaitu orang-orang yang:
1. Beriman
2. Beramal Soleh
3. Menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
tanyalah pada siswa yang tidak naik kelas.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 semester,
tanyalah pada seorang mahasiswa yang telat lulus kuliah.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 bulan,
tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 minggu,
tanyalah seorang editor majalah mingguan.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 hari,
tanyalah pada seorang wanita menanti pernikahannya esok hari.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 jam,
tanyalah pada seorang pengusaha yang telat bertemu investor potensial.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 menit,
tanyalah pada seorang penumpang yang ketinggalan pesawat.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 detik,
tanyalah pada seorang yg selamat dari reruntuhan bangunan
.
Bila kau ingin tahu apa arti 1 milidetik,
tanyalah pada seorang atlit lari olimpiade.
Bila kau ingin tahu apa arti waktu dan hidup,
tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Semoga kita termasuk 3 golongan orang-orang yang beruntung. Yaitu orang-orang yang:
1. Beriman
2. Beramal Soleh
3. Menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
Senin, 07 April 2014
GOLPUT bukan Pilihan Tepat
Siapa bilang demokrasi itu sistem Islam?Hanya orang jahil yang ngomong begitu.
Siapa bilang syariat Islam bisa tegak di parlemen?
Hanya orang yang tidak paham yang bicara seperti itu.
Tapi bagaimana jika engkau hidup di negeri
dengan sistem seperti itu?
dengan sistem seperti itu?
Lalu di hadapanmu ada 2 pilihan:
Yang satu adalah calon pemimpin
yang tidak akan mengganggu agamamu,
Yang akan menjaga hak-hakmu sebagai muslim-muslimah
Meski mungkin ia bukan seorang muslim yang patuh…
Yang satu adalah calon pemimpin
yang tidak akan mengganggu agamamu,
Yang akan menjaga hak-hakmu sebagai muslim-muslimah
Meski mungkin ia bukan seorang muslim yang patuh…
Lalu calon kedua adalah calon pemimpin
yang hampir bisa dipastikan:
Melecehkan hak-hakmu sebagai muslim yang komitmen
Membiarkan musuh-musuh agamamu melecehkan Qur’anmu
Melecehkan ibunda-ibunda kamu mukminin
Melecehkan para sahabat nabimu
Berpihak pada kompeni-kompeni busuk
Dan bersahabat dengan para taipan penjilat
yang hampir bisa dipastikan:
Melecehkan hak-hakmu sebagai muslim yang komitmen
Membiarkan musuh-musuh agamamu melecehkan Qur’anmu
Melecehkan ibunda-ibunda kamu mukminin
Melecehkan para sahabat nabimu
Berpihak pada kompeni-kompeni busuk
Dan bersahabat dengan para taipan penjilat
Apakah engkau akan diam saja
membiarkan calon kedua merajai negerimu yang demokratis ini?
membiarkan calon kedua merajai negerimu yang demokratis ini?
Maafkan aku menyelamu sebelum menjawab:
Tapi kita tidak bicara soal penegakan syariat Islam.
Aku tidak pernah ragu:
Syariat Islam harus ditegakkan!
Kekhilafahan harus dikembalikan!
Kedaulatan dan hukum hanya milik Allah semata!
Aku tidak pernah ragu tentang itu, kawan…
Tapi kita tidak bicara soal penegakan syariat Islam.
Aku tidak pernah ragu:
Syariat Islam harus ditegakkan!
Kekhilafahan harus dikembalikan!
Kedaulatan dan hukum hanya milik Allah semata!
Aku tidak pernah ragu tentang itu, kawan…
Tapi…
Kita sedang bicara tentang 2 pilihan buruk:
Mana yang paling ringan buruk-bahayanya?
Persis seperti ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mengirim sahabatnya berhijrah ke Habasyah
Bernaung di bawah kekuasaan Najasyi yang Kristen
(dan bukan berhukum pada Syariat Islam!)
Persis seperti Ja’far bin Abi Thalib menguntai doa:
“Ya Allah, menangkanlah Najasyi,
karena kemenangannya adalah kemenangan kami!”
Kita sedang bicara tentang 2 pilihan buruk:
Mana yang paling ringan buruk-bahayanya?
Persis seperti ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mengirim sahabatnya berhijrah ke Habasyah
Bernaung di bawah kekuasaan Najasyi yang Kristen
(dan bukan berhukum pada Syariat Islam!)
Persis seperti Ja’far bin Abi Thalib menguntai doa:
“Ya Allah, menangkanlah Najasyi,
karena kemenangannya adalah kemenangan kami!”
Jika engkau mengatakan:
Kita harus mencegah calon kedua
mencengkramkan kukunya pada bangsamu,
maka tolong kabarkan padaku:
adakah cara lain untuk mencegahnya,
selain dengan memilih calon yang pertama?
Kita harus mencegah calon kedua
mencengkramkan kukunya pada bangsamu,
maka tolong kabarkan padaku:
adakah cara lain untuk mencegahnya,
selain dengan memilih calon yang pertama?
Tidak memilih apapun dan siapapun
berarti memilih untuk tidak peduli.
“Siapa yang mengatakan manusia sudah rusak,
Maka dialah sebenarnya yang paling rusak,
Atau dialah sebenarnya yang merusak mereka.”
berarti memilih untuk tidak peduli.
“Siapa yang mengatakan manusia sudah rusak,
Maka dialah sebenarnya yang paling rusak,
Atau dialah sebenarnya yang merusak mereka.”
Memilih untuk tidak peduli
Berarti memilih yang terburuk
di antara 2 hal yang buruk.
Dan Islam tidak pernah mengajarkan itu.
Berarti memilih yang terburuk
di antara 2 hal yang buruk.
Dan Islam tidak pernah mengajarkan itu.
Wallahu a’lam.
Hanya Allah yang Maha mengetahui.
Hanya Allah yang Maha mengetahui.
Makassar, 7/4/2014
Muhibbukum fiLlah,
Muhammad Ihsan Zainuddin
Muhibbukum fiLlah,
Muhammad Ihsan Zainuddin
Sabtu, 05 April 2014
Kerja politik adalah sebuah pilihan, ijtihad yang perlu diapresiasi penuh hormat
by Ust ahmad hanafi, Lc, M.A
(Copas dari WA)
Di saat orang lain berlomba merebut kekuasaan dengan
menghalalkan segala cara, saudara-saudara kita berusaha konsisten dengan cara
santun, peduli, elegan dan semangat ke-Islaman dan ukhuwah.
Bahkan bukan rahasia lagi jika musuh kaum muslimin dan para
pendukungnya juga berlomba lomba memanfaatkan jalur kendaraan politik untuk
menyebarkan ide dan faham kesesatan mereka.
Kalau ijtihad politik saudara- saudara kita berpihak kepada
ummat dan keberlangsungan dakwah, maka bukanlah sikap baik dan bijak, jika kita
mencibir, meremehkan bahkan memandangnya sebelah mata. Ingatlah senyummu
dihadapan saudaramu adalah sedekah. Mereka juga memilih jalur ini berangkat
dari sebuah kesadaran besar dan tanggung jawab untuk melakukan perbaikan di
tengah masyarakat kita.
Takkala saudara-saudara kita salah, maka luruskan dan kritiklah
dengan cara yang bijak dan santun. Mereka juga sama seperti dirimu yang tak
suka dikasari dan diberlakukan secara tak adil dan tidak berimbang.
Bukankah saudara-saudara kita yang lain, yang tidak memilih
jalur jihad politik sebagai wasilah dakwah juga kerap melakukan kesalahan
bahkan terkadang bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya prinsip dasar
keislaman.
Disinilah kita perlu kembali mempelajari fikih nasehat dan
memperbaiki kesalahan dan kekhilafan orang lain. Dibanding memvonis dan lebih
suka menyalahkan, kita sangat perlu menghidupkan tradisi silaturahim, bukan
hanya kepada orang yang satu fikrah, ide dan methode dengan kita dalam
berdakwah. Tetapi silaturahim ini juga sangat perlu kepada orang yang berbeda
pilihan dan ijtihad dengan kita dalam berdakwah.
Kepada saudara-saudaraku yang bekerja dakwah lewat jalur
politik, ketahuilah bahwa perjuangan ini adalah jalan panjang yang penuh dengan
intrik, godaan dan bisikan untuk mengaburkan bahkan menjauhkan anda dari nilai
nilai Islam yang luhur. Olehnya itu, perkuat iman, ibadah dan taqarrub kepada
Allah. Serta jangan pernah bosan untuk terus menggali ilmu-ilmu islam dan
meminta nasehat, saran dan petunjuk para ulama.
Kepada saudara-saudara yang konsisten dengan pilihan non
politik, kalaupun anda tidak setuju, sampaikan ketidak setujuan itu dengan cara
yang santun, klarifikasi terlebih dahulu sebelum mempublikasi. Banyak hal yang
diyakini kebenarannya tapi tidak menjadi maslahat untuk dikonsumsi oleh publik.
Dan yang terpenting, orang-orang yang berkecimpung di jalur dakwah politik juga
adalah saudara kita. Maka perlakukanlah mereka layaknya sebagai saudara dan
bukan sebagai lawan apalagi kalau dianggap sebagai musuh.
Langganan:
Postingan (Atom)

