Sabtu, 05 April 2014

Kerja politik adalah sebuah pilihan, ijtihad yang perlu diapresiasi penuh hormat


by Ust ahmad hanafi, Lc, M.A 
(Copas dari WA)

Di saat orang lain berlomba merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, saudara-saudara kita berusaha konsisten dengan cara santun, peduli, elegan dan semangat ke-Islaman dan ukhuwah.
Bahkan bukan rahasia lagi jika musuh kaum muslimin dan para pendukungnya juga berlomba lomba memanfaatkan jalur kendaraan politik untuk menyebarkan ide dan faham kesesatan mereka.

Kalau ijtihad politik saudara- saudara kita berpihak kepada ummat dan keberlangsungan dakwah, maka bukanlah sikap baik dan bijak, jika kita mencibir, meremehkan bahkan memandangnya sebelah mata. Ingatlah senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Mereka juga memilih jalur ini berangkat dari sebuah kesadaran besar dan tanggung jawab untuk melakukan perbaikan di tengah masyarakat kita.

Takkala saudara-saudara kita salah, maka luruskan dan kritiklah dengan cara yang bijak dan santun. Mereka juga sama seperti dirimu yang tak suka dikasari dan diberlakukan secara tak adil dan tidak berimbang.
Bukankah saudara-saudara kita yang lain, yang tidak memilih jalur jihad politik sebagai wasilah dakwah juga kerap melakukan kesalahan bahkan terkadang bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya prinsip dasar keislaman.

Disinilah kita perlu kembali mempelajari fikih nasehat dan memperbaiki kesalahan dan kekhilafan orang lain. Dibanding memvonis dan lebih suka menyalahkan, kita sangat perlu menghidupkan tradisi silaturahim, bukan hanya kepada orang yang satu fikrah, ide dan methode dengan kita dalam berdakwah. Tetapi silaturahim ini juga sangat perlu kepada orang yang berbeda pilihan dan ijtihad dengan kita dalam berdakwah.

Kepada saudara-saudaraku yang bekerja dakwah lewat jalur politik, ketahuilah bahwa perjuangan ini adalah jalan panjang yang penuh dengan intrik, godaan dan bisikan untuk mengaburkan bahkan menjauhkan anda dari nilai nilai Islam yang luhur. Olehnya itu, perkuat iman, ibadah dan taqarrub kepada Allah. Serta jangan pernah bosan untuk terus menggali ilmu-ilmu islam dan meminta nasehat, saran dan petunjuk para ulama.

Kepada saudara-saudara yang konsisten dengan pilihan non politik, kalaupun anda tidak setuju, sampaikan ketidak setujuan itu dengan cara yang santun, klarifikasi terlebih dahulu sebelum mempublikasi. Banyak hal yang diyakini kebenarannya tapi tidak menjadi maslahat untuk dikonsumsi oleh publik. Dan yang terpenting, orang-orang yang berkecimpung di jalur dakwah politik juga adalah saudara kita. Maka perlakukanlah mereka layaknya sebagai saudara dan bukan sebagai lawan apalagi kalau dianggap sebagai musuh.






Senin, 18 November 2013

Jika Engkau Cerdas Ingatlah Kematian

harapan
Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.
Rasulullah bersabda,
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: (yaitu) kematian” [1].

Orang yang Cerdas = Yang Mengingat Kematian
Seorang yang cerdas tentu tidak akan terlena dengan kehidupan dunia karena dia sadar dunia ini fana dan hanya sementara. Dia tidak akan terlena dengan gemerlapnya dunia dan segala apa yang ada di dalamnya. Sebaliknya ia akan senantiasa ingat akhirat, tempat tinggalnya yang abadi kelak. Dengan demikian seorang yang cerdas maka ia akan selalu ingat kematian. Ibnu Umar berkata :
“Suatu ketika saya pernah bersama Rasulullah lalu datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshor. Dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alahi wasallam lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, muslim manakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Yaitu yang paling baik akhlaqnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu muslim manakah yang paling cerdas?” Rasulullah menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk kehidupan yang berikutnya (setelah kematian). Mereka itulah orang-orang yang cerdas” [2].

Betapa banyak kita dapati orang-orang yang ‘tidak cerdas’. Dia tahu bahwa dirinya akan meninggalkan dunia ini tetapi ia kejar dunia ini mati-matian. Dia tahu bahwa dirinya akan menghadapi kehidupan akhirat tetapi ia lalai mempersiapkan bekal untuknya. Hal ini tidak lain karena dia lalai mengingat kematian.

Perkataan Salaf Seputar Kematian

Hasan Al Basri rahimahullah mengatakan, “Kematian telah menghinakan dunia. Tidaklah tersisa orang yang berdiam padanya rasa gembira. Tidaklah seorang hamba hatinya senantiasa mengingat kematian kecuali ia akan mengecilkan dunia dan menganggap remeh segala apa yang ada padanya”.
Syamith bin Ajlan mengatakan, “Barangsiapa menjadikan kematian di depan pandangan matanya maka ia tidak akan perduli dengan sempit atau luasnya dunia”.
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jika (engkau) mengingat orang-orang yang telah mati maka anggaplah dirimu salah satu dari mereka”.
Hendaknya kita sesekali masuk kuburan untuk mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, hati kita tidak akan terikat dengan di dunia. Kita harus yakin bahwa kita akan berpisah dengan dunia ini dan segala apa yang kita cintai di dalamnya.

Jangan Berpanjang Angan

Jangan berpanjang angan-angan bahwa kematian masih lama menghampiri kita. Tidakkah kita sering meyaksikan seorang pemuda yang badannya segar bugar tiba-tiba meninggal dunia. Seorang yang badanya sehat wal afiyat dipagi hari tiba-tiba sorenya menjadi mayat yang terbujur kaku. Kematian bisa datang kapan saja. Hendaknya kita senantiasa bersiap untuk menghadapinya. Ingatlah kita di dunia ini hanya sementara dan kita harus menyiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya. 
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata,
“Suatu saat Rasulullah memengang pundak saya, lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan”. Ibnu Umar mengatakan, “Jika kamu di waktu sore maka jangan menunggu waktu subuh, jika kamu di waktu subuh jangan menunggu waktu sore. Gunakanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, gunakan kehidupanmu untuk kematianmu.” [3]


Ingatlah kematian dan jangan berpanjang angan! Seorang yang mengingat kematian tentu takut untuk berbuat maksiat. Bagaimana ia berbuat maksiat padahal dia sadar bisa jadi ia mati setelah itu atau bahkan pada saat itu juga. Seorang yang mengingat kematian tidak akan bosan dengan ibadah/amal yang dia lakukan. Dia akan berusaha memperbagus setiap ibadah/amal yang lakukan karena dia sadar bisa jadi itu adalah ibadah/amal terakhir sebelum kematiannya.

Terakhir, mari kita simak kisah menarik dari salafus saleh berikut ini tentang berpanjang angan. Dari Muhammad bin Abi Taubah, dia berkata, Ma’ruf (mengumadangkan) iqamat untuk sholat lalu berkata kepadaku, “Majulah (menjadi imam)!” Maka saya berkata, “Jika saya mengimami kalian kali ini maka saya tidak (bersedia) lagi mengimami lain kali.” Ma’ruf pun berkata, “Apakah jiwamu membisikkan bahwa kamu akan (dapat) shalat[truncated by WhatsApp]

Kamis, 31 Oktober 2013

Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita

Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar.
Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit ...

Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit ...

Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit ...

Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 5 Menit ...

Pupil mata membesar dan berselaput.
Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 9 Menit ...

Penghubung ke otak mulai mati.

1 4 Jam ...

Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 6 Jam ...

Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam ...

Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam ...

Suhu tubuh langsung menurun drastis.
24 72 Jam ...

Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 48 Jam ...

Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.

3 5 Hari ...

Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 10 Hari ...

Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu ..

Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan ... Kulit Anda mulai mencair.

Satu Tahun ...

Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda.
Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan
berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulangyang menyedihkan. Jadi, apa yang mau disombongkan orang sebenarnya ???.

Apa yang hendak kau sombongkan wahai diri...?

Ya Allah..
Jangan engkau Ambil Nyawa kami kecuali dalam keadaan Husnul khatimah..

Aamiin.

Sabtu, 21 September 2013

Seorang Lelaki dari Ujung Kota

Muqaddimah
Sebagai hamba Allah, dalam berbagai momen dan kesempatan, hendaknya kita senantiasa memuji Allah, karena pada setiap desahan nafas dan detak jantung, ada tetesan dan limpahan nikmat dan Rahmat Allah. Dan tidak satupun jalan yang mendatangkan kemurkaan Allah, melainkan jauh-jauh hari  telah diperingatkan oleh Rasulullah. Maka Nabi tidak meninggalkan ummatnya melainkan dalam keadaan agama ini terang benderang, bahkan sampai malamnya seperti siang.  

generasi pertama dari kalangan umat Islam (para shahabat), begitu setia mendampingi Rasulullah memperjuangkan Islam. Mereka senantiasa memikirkan bagaimana memperjuangkan agama Allah. Ketika datang panggilan dari Rasulullah ‘siapakah dari kalian yang ingin menghadang, menjauhkan kaum musyrikin dari  menyerangku?’ 

maka setiap dari mereka membusungkan dadanya dan berkata ‘ana lahu ya rasulullah’ “sayalah orangnya yang siap menghadapi orang yang menyerangmu” Banyak diantara mereka yang meneteskan air mata  ketika tidak diizinkan oleh Rasulullah untuk ikut  berperang secara langsung, berjihad di jalan Allah.

bukan menjadi syarat bahwa orang yang memperjuangkannya harus dari kalangan orang yang berilmu, ulama, atau yang membantu dengan harta, melainkan semua muslim punya kewajiban dan tanggung jawab untuk memikirkan tentang persoalan dakwah.

Kisah Seorang Lelaki
Di dalam Al-Quran dikisahkan tentang seseorang yang perasaannya gelisah. Ia tidak tenang ketika mendapati kaumnya, yang telah Allah utus kepada mereka dua orang rasul, bahkan menambah lagi tiga orang rasul, pada zaman yang sama. Maka tampillah ia, seorang yang bukan dari kalangan Nabi atau Rasul, yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran. Namun karena merasa  terpanggil, ia meninggalkan tempatnya di pinggir kota, dan mendatangi kaumnya. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
 “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu” (QS.36:20)